Saat Pulau-Pulau Kecil di Madura Coba Diterangi oleh Tenaga Surya, Apa Kendalanya?




  • Di pulau-pulau kecil di Kabupaten Sumenep, Madura, warga pulau umumnya masih mengandalkan listrik dari tenaga diesel. Ada juga yang telah memasang panel surya secara mandiri.

  • Di Pulau Saubi misalnya, baru beberapa bulan ini warga beralih ke PLTS yang dibangun oleh PLN. Meski demikian masih ada warga yang tetap memilih menggunakan listrik diesel.

  • Edukasi warga menjadi penting. Di saat-saat awal PLTS terpasang, masih ada beberapa warga yang tidak taat dengan aturan penggunaan maksimum listrik atau meteran limiter. Warga juga diminta untuk memelihara jaringan kabel listrik.

  • Bagi sebagian warga, memilih untuk berlangganan tenaga surya masih terkendala dengan biaya pemasangan awal meteran listrik, yang dianggap masih cukup mahal.

Perahu saya akhirnya bersandar di dermaga kayu Pulau Saubi, satu dari 126 pulau yang secara administrasi masuk Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Dari seratusan lebih pulau di kabupaten ini, 48 pulau berpenghuni. Di kepulauan Madura ada tiga gugusan kepulauan, yakni Masalembu, Kangean, dan Sumenep.


Untuk menuju Pulau Saubi dibutuhkan ‘perjuangan.’ Berangkat dari Pelabuhan Kalianget, Sumenep di daratan Madura memerlukan 10 jam sampai ke Pelabuhan Batu Guluk, Pulau Kangean. Pelabuhan itu merupakan akses pertama menjangkau berbagai pulau di Kepulauan Kangean, Sumenep.


Dari sana, kita harus naik pick-up (orang lokal menyebutnya ‘taksi’) menuju Pelabuhan Songai Beto-Beto sekitar 30 menit. Dari Songai Beto-Beto ke Saubi, kita harus ganti perahu kecil. Setelah sekitar satu jam, barulah kita sampai di Saubi.


Saat tiba, saya tidak melihat jalan beraspal di pulau itu, hanya paving atau cor semen. Debu beterbangan, terlebih kala ada kendaraan lewat. Sapi-sapi bebas berkeliaran di jalanan dekat permukiman penduduk maupun lahan-lahan pertanian.


“Patao emberre bariya, laju ajhalan sapena ka orengah (perlihatkan ember seperti ini, sapi langsung akan berjalan menuju pemiliknya),” kata Adnawi, salah satu warga Saubi yang punya tujuh sapi. Dia sedang menggiring sapinya.


Pada masa kemarau, nyaris tak ada warga yang bercocok tanam di lahan atau sawah karena tidak ada sungai. Mereka mengandalkan air hujan dalam bertani. Kalau tanam jagung bisa dua kali dalam satu musim. Padi, hanya satu kali.


Siang hari, di pulau ini jarang terdengar suara alat-alat eletronik, macam televisi, atau sound mini. Listrik pun hanya menyala selama 12 jam di malam hari. Pemenuhan listrik pulau ini sejak empat bulan lalu pakai energi surya, dimana sebelumnya pakai pembangkit listrik diesel.


Muhammad Rasidi, warga Saubi, punya usaha jasa print, fotocopy, dan pengetikan. Tapi, dia hanya bisa beroperasi malam hari kala listrik nyala. Andai saja listrik menyala 24 jam, katanya, berbagai usaha bisa makin bergeliat, termasuk usahanya.


Dia bilang, pembangkit listrik surya kelolaan PLN baru beroperasi sekitar empat bulan lalu. Sebelumnya, pulau ini pakai listrik diesel dari usaha penyedia jasa perorangan. Tarif listrik diesel per bulan untuk lampu Rp60.000, kalau punya televisi, pompa air, dan kulkas, bayar beda lagi.


Setelah PLTS beroperasi, dia beralih dari diesel ke surya. Dia merasakan perbedaan dalam beberapa hal. Cahaya lampu ketika pakai diesel tak merata hingga tidak jarang harus ganti lampu setiap bulan karena rusak. Kala pakai listrik surya sinar lampu stabil dan biaya tagihan jauh lebih murah.


Hadnin, tetangga Rosidi, juga merasakan hal serupa. Setelah ada PLTS, sehari-hari, dia biasa menimba air dari sumur untuk mandi, masak, minum, dan lain-lain. Saat PLN membuka pendaftaran pelanggan, dia beli pompa air.


“Setelah daftar [listrik PLN], saya langsung beli,“ katanya.


Instalasi PLTS di Pulau Saubi mulai dibangun sejak 2019 dengan kapasitas 0,15 mW, ia mulai beroperasi pada Oktober 2019, dan terdistribusi kepada pelanggan mulai April 2020.


Namun, tak semua warga Pulau Saubi bisa menikmati listrik PLTS. Karena masih baru, masih ada warga yang sangsi dengan keberlangsungan pembangkit ini. Mereka masih bertahan pakai jasa diesel.


Pada awal pengoperasian, PLTS ini sempat disambar petir walaupun sudah dilengkapi penangkal petir. Demikian cerita Ahmad Shalehuddin, teknisi PLTS menjelaskan. Tapi dari kejadian itu, -Hud demikian dia dipanggil, bersyukur dia bisa jadi paham bagian-bagian apa yang dipakai dalam perangkat PLTS.


Di luar itu, menurut Hud perilaku warga juga masih jadi masalah. Di awal pengoperasian warga cenderung semena-mena gunakan listrik. Padahal meter kWh pakai sistem meter kWh limiter, dimana setiap pelanggan dibatasi satu kWh dalam 24 jam.


“Jika udah nyampek 1 kWh, maka ulang lagi dari nol,” jelasnya.


Apabila melebihi batas yang ditentukan, listrik yang bersangkutan akan mati. Ada mati satu kali dalam satu malam, ada sampai dua kali. Kejadian seperti itu kerap berulang.


Dia bilang, ada juga pelanggan tak jujur soal pemakaian, mereka gunakan alat-alat elektorik berkapasitas besar hingga listrik mati.


“Pokoknya kalau besok lagi seperti ini, kWh-nya saya buka. Sampean sudah putus dari penyambungan.” Begitu Hud memberi peringatan. Perlahan, warga mulai bijaksana memakai listrik.


Berdasarkan pantauan dia, konsumsi tertinggi terjadi dari pukul 18.00-22.00 yaitu sebesar 25 kWh, setelah pukul 22.00 menurun sampai 16 kWh, baru pada 03.30 kembali naik ke 20 kWh.


Di PLTS Saubi yang berdiri di lahan seluas satu hektar itu, ada 312 baterai. Hud merawat dan membersihkan paling tidak satu minggu sekali. Itu dia lakukan, agar intensitas cahaya matahari yang diterima panel bisa terus maksimal.


Dalam melakukan pekerjaannya, Hud tak pernah mengeluh meski dalam beberapa bulan awal kerja dia tak mendapat honor. Bagi dia yang terpenting energi bagi masyarakat di Saubi tercukupi.


***


Meski PLTS dari PLN sudah masuk ke Saubi, namun belum semua dusun terlayani. Contohnya Dusun Pajenassem, setidaknya diperlukan 100 tiang untuk sampai ke Pajenassem dari pusat PLTS, berjarak sekitar empat km. Untuk mengatasi keterbatasan yang ada, warga coba membuat instalasi mandiri.


Husen, seorang warga Pajenassem bercerita, katanya masyarakat Pajenassem rata-rata memakai panel surya milik sendiri untuk penerangan di malam hari, termasuk dirinya. Penyimpanan tenaga listrik dia mengaku pakai aki mobil.


“Kekuatan aki ini hanya sekitar dua tahun, kadang dua tahun lebih. Harga aki mahal, Rp1-2 juta,” ungkap Husen. Dia punya panel surya berkapasitas 50 Watt.


Penyedia jasa PLTD yang masih bertahan di Desa Saubi adalah Muhammad Saleh. Dia bilang, sebelumnya ada empat penyedia jasa listrik diesel. Seiring ada PLTS PLN, banyak warga yang beralih. Pelanggannya berkurang drastis, biasa hampir 200 kini tinggal 111 pelanggan.


Saleh buka jasa diesel ini sudah enam tahun. Dia punya tiga mesin diesel dan dua dinamo aktif, ada kapasitas 30 ribu PK, ada 50 ribu PK. Kini, tersisa satu diesel yang beroperasi.


Untuk mendapatkan akses listrik diesel, calon pelanggan cukup bayar Rp200 ribu untuk biaya penyambungan kabel. Semua kabel Saleh yang urus, calon pelanggan tinggal menikmati listrik.


Saat ditanya apa alasannya Saleh bertahan. Dia bilang bukan soal pendapatan semata, tetapi turut membantu masyarakat yang tak mendapatkan akses listrik surya PLN. Bahkan, dia menggratiskan 11 pelanggan yang keadaan ekonomi lemah.


Untuk tarif listrik diesel, Saleh mematok Rp65.000 untuk lampu, Rp25.000 untuk pompa air, dan Rp70.000 untuk televisi, kalau ada kulkas beda lagi.


Kendala warga belum bisa akses PLTS, menurut Saleh karena biaya mahal untuk mendapatkan peralatan atau meteran Kwh. Kalau dia tutup usaha diesel, yang belum bisa beli pembangkit surya, katanya tak akan ada energi setidaknya buat penerangan.


Herman Junaidi, pengasuh Pondok Pesantren Darussalam, Saubi juga turut membantu warga peroleh meteran. Dia hadir dalam sosialisasi PLTS awal masuk Saubi. Saat peresmian di Kepulauan Kangean oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, dia menyampaikan keluhan warga termasuk soal harga meteran PLTS terlalu mahal. Dia juga menghubungi PLN lewat telepon.


Protes Herman waktu itu buahkan hasil, harga meteran pun turun. Meter kWh 900 volt, awal mulai Rp2,8 juta turun ke kisaran Rp2 jutaan. Buat 450 Volt, dari Rp2 jutaan jadi Rp1,6 juta. Angka itu pun masih ada warga yang keberatan karena dinilai masih terlalu mahal.


Selama ini, Herman bilang telah membantu 60-70 pemesan meter kWh, 25 instalasinya sudah terpasang, sisanya barang sudah datang tetapi belum ada pemasangan.


Perihal kendala PLTS, Herman sebut adalah minimnya petugas untuk merawat jaringan listrik khususnya pemeliharaan kabel. Ketika ada kabel bergesekan dengan ranting pohon yang terus terjadi terus-menerus, kulit kabel bisa terkelupas.


Untuk itu, dia mengajak masyarakat bersama-sama saling memelihara jaringan listrik surya. Dia sadari geografis Pulau Saubi tidak seperti di kota. Kalau di kota cukup telepon 123, petugas langsung datang.


“Iya betul diperbaiki, cuma lama berangkat [kapalnya].”


Herman menyayangkan jika masih ada anggapan kalau listrik itu berarti PLN diesel. Padahal, PLTS ini lebih modern dan terbarukan. Di Pondok Pesantren yang dipimpinnya, mereka sudah belasan tahun menggunakan PLTS secara mandiri.



1 view